Powered By Blogger

Pages

masukkan nama anda dan pasangan anda untuk mengetahui kecocokan dan masa depan hubungan kalian

Klik kiri untuk kasih makan dia !!

Sunday, February 5, 2012

Masuknya Injil di Tanah Papua


Hari ini, Minggu 5 Februari 2012 adalah hari yang sangat bersejarah bagi jutaan umat Kristiani di Tanah Papua. Sebab setiap tanggal 5 Februari selalu diperingati sebagai hari masuknya Pekabaran Injil di tanah Papua.
Injil pertama kali masuk Pulau Mansinam, Teluk Doreh Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat (dulu Papua) pada tanggal 5 Februari tahun 1885 lalu, melalu kedua Misionaris dari Belanda dan Jerman. Kalau mau dihitung, berarti sudah 157 Tahun Injil masuk di tanah Papua.
Masuknya Injil di tanah Papua sendiri telah membawah perubahan besar bagi seluruh masyarakat Papua, terutama dari segi iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dimana bisa mengenal akan terang Kristus, yang turut membawah perubahan segala pola pikir masyarakat Papua yang sangat awam dan kuno.
Kedua Misionaris itu adalah Carl Wilhelm Ottow, lahir pada tanggal 24 Januari 1827 dan kemudian meninggal pada tanggal 9 November 1982. Dan Johann Gottlob Geissler, di lahirkan pada 18 Februari 1830 di langenrechenback, Jerman.
Banyak rintangan, halangan dan cobaan yang mereka hadapi selama 3 tahun untuk sampai di tanah Papua, tapi itu bukan sebuah ukuran untuk mereka berhenti memberitakan Injil. Bagi kedua misionaris pada saat itu, Injil yang akan mereka bawah lebih berharga dari segalanya, termasuk dari sanak-saudara mereka.
“Dengan nama Tuhan kami menginjakan kaki di tanah ini” doa yang sangat memiliki beragam arti. Dimana hanya nama Tuhan yang di dahulukan sebelum menginjakan di bumi Papua yang kaya raya.
Dan tema perayaan Ibadah Masuknya injil di tahun ini sendiri adalah "Beritakan Injil sampai Tuhan datang kembali" dengan sub tema "Melalui HPI Umat Kristen di Panggil Untuk menerima pemberian tangan Tuhan".
Semoga peringatan masuknya Injil di tanah Papua yang ke-157 ini memberkan arti dan makna tersendiri bagi jutaan masyarakat yang ada di Papua.

Monday, January 23, 2012

"GONG XI FA CAI" 2563

Selamat tahun baru Imlek 2563. Gong Xi Fa Cai - Wan Se Ru Yi, Sen Thi Cien Khang. Semoga senantiasa diberi kesehatan, damai sejahtera dalam rumah tangga dan kesuksesan. Amin.

Sunday, January 1, 2012

Happy New Year 2012

Dengan berjalannya waktu, setiap pengalaman dalam hidup adalah pelajaran, tapi cinta & peduli akan selalu menjadi kekuatan dalam bertahan hidup. Selamat Tahun Baru 2012.

Sunday, December 25, 2011

Merry Christmas: Baju Natal

Satu hari menjelang Natal, Anne masih termenung duduk di atas kursi di beranda rumah. Wanita kecil, berumur 10 Tahun dengan hiasan rambut hitam legam dan panjang itu menatap jalan, kedipan di matanya hanya akan mengingatkan kalian pada seekor kunang-kunang, indah dan hampir saja padam. Pipinya putih bersih, walau bibir agak pecah -belah karena puasa. Anak kecil seperti itu kelak akan mengingatkan kalian pada seorang Oliver Twist, bocah dengan raut wajah kepedihan dan kesedihan yang bisa dibagikan kepada orang lain. Bocah yang bisa membawa kalian pada alam empati, dimana rasa sakit seakan lusinan paku menusuk dada dan jantung kalian, dan itu bisa dirasakan oleh kalian hanya dengan menatap wajah Anne.
Satu Hari menjelang Natal, Anne masih menunggu, kapan mamanya membelikan dia baju Natal. Padahal anak-anak lain telah membicarakan baju-baju baru di sekolahnya sejak seminggu terakhir ini. Natal tahun ini pasti lebih seru karena orangtua mereka telah membelikan untuk mereka baju-baju warna-warni. Natal memang akan dikunyah ibarat makanan renyah untuk anak-anak lain. Anne hanya duduk saja mengharap kepulangan mamanya.
Satu hari menjelang Natal, Anne masih berharap, mamamnya akan segera pulang dari pasar sambil membawa barang-barang, penganan, kue-kue dan sudah tentu baju Natal yang akan dipakainya ke Gereja nanti. Requim telah menggema, memecah udara alam sore, kering namun dingin, berhembus di altar pepohonan padi, gunung membiru seolah bersyukur menyambut Natal.
Satu Hari menjelang Natal, Mata Anne berkilatan, ada bahagia tersembur keluar, aura  di wajahnya mengingatkan kalian pada bulat mentari sore dengan nuansa cerah emas. Satu fokus pandangan darinya menatap jalan dimana seorang ibu dengan baju merah jambu berjalan, penuh semangat, senyum, dan kalian akan membayangkan betapa di dalam diri wanita itu ada segudang kebahagiaan meskipun, jika kalian tahu, wanita itu telah lama ditinggal pergi oleh suaminya. Senyum itu sama sekali tidak keluar secara terpaksa, kecuali keluar tanpa paksaan, dan begitu hangat. Barisan giginya memang sengaja diperlihatkan kepada anaknya, supaya keceriaan dan rasa bahagia tidak akan terlepas lagi dari dalam diri Anne. Ya, kebahagiaan Anne bukan tanpa alasan, tentu saja kebahagiaan itu karena mamanya membawa barang-barang selaras dengan harapan dalam dirinya.
Satu hari menjelang Natal, Mama mencium Anne yang telah berdiri menyambutnya. Ciuman itu akan mengingatkan kalian pada cinta. Aku yakin, kalian pernah dicium oleh cinta. Penanda kebahagiaan lebih lengkap dan utuh ketika mama mengeluarkan bungkusan dan memberikannya kepada Anne. Baju Baru. Dengan alasan tertentu, maka mama berkata kepada anaknya.
” Baju Natal Untukmu…”
” Terimakasih, mama!” Ucap Anne , lalu memeluk erat mamanya seolah tidak ingin dilepaskan lagi.
Satu hari menjelang Natal, Anne menatap dirinya di cermin. Baju baru telah dipakai, dicoba, berdiri menyamping, membelakangi cermin, lalu menatap cermin lagi, seutas senyum coba dikeluarkan olehnya, memegang pipinya, dan lengkaplah ketika mamanya berkata; ” Sungguh cantik, kamu, Neu!”.
Satu Hari menjelang Natal, sebuah tangis terdengar dari rumah tetangga Anne. Anne mencoba menguping, mama pun demikian memasang telinga kuat-kuat. Lantas setelah segalanya jelas, anak dan ibu itu menggigit bibir kuat-kuat, saling menatap tanpa kata. Tangisan itu memberi berita, jika anak tetangga Anne hari ini masih belum memiliki baju Natal, padahal beberapa jam lagi hari akan berganti.
Satu hari menjelang Natal, Anne berbisik lembut kepada mamanya,
” Mama, biar baju Natal ini Anne berikan saja kepada Qinong…..”
Mama tersenyum. Demi melihat kelembutan hati anaknya. Dalam benaknya terpikir, hati Anne seolah terbuat dari mutiara yang pernah dipegang oleh Gabreal, mutiara kasih-sayang.
Malamnya, Anne memberikan baju Natal itu kepada Qinong, tetangganya. Ibu Qinong memeluk erat tubuh Anne, sambil berbisik, anak ini terbuat dari apa? Tangis pun keluar tanpa harus dipaksa dan disuruh oleh siapa pun.
Gema Requim membahana di seantero, nyanyi malaikat terdengar mengalahkan keloneng lonceng Natal dan kebahagiaan orang-orang menyuguhkan satu kemenangan, kebahagiaan menutupi Natal tahun ini. Anne dan Mama saling menatap dan tersenyum bahagia.
” Selepas dari Gereja kita ke kuburan ayah…” Kata mama kepada Anne.
Demi mendengar itu, Anne tersenyum. Diam dalam balutan gema requim yang diputar di tape recorder.
Lalu,  menjelang pukul 20.00, ketika Anne akan memasuki alam mimpinya, pintu diketuk ringan. Mama membuka pintu, seseorang telah berdiri sambil membawa sebuah kardus, bisa diterka isinya pasti penuh.
” Ini untuk, Anne…!” Kata orang itu sambil meletakkan kardus di atas lantai, ” Pemberian bapak Pastur…”
Orang itu bergegas pergi. Mama membawa kardus itu ke dalam kamar Anne. Anne duduk di bibir ranjang, sambil tetap mempertahankan senyumnya.
” Kita Buka sama-sama ya?!” Kata mama.
Dan kardus pun dibuka, isnya adalah aneka kue, bahkan ada amplop, sudah barang tentu berisi uang, dan senyum di bibir Anne semakin kuat ketika di dalam kardus itu ada didapat baju baru.
” Ini baju Natalmu, Neu!” Kata ibu.
Tiba-tiba alam menjadi terang dengan kasih-sayang, kasih-sayang antara sesama manusia, tanpa batas… dan kalian akan selalu merindukannya… kasih-sayang tnpa aturan yang mengikat akan sebuah balasan dari orang lain kecuali dari Dia Yang Maha Penyanyang!

Thursday, December 22, 2011

I Love You MOM, God Always Bless You

Di detik pertama saya melihat dunia, Bunda tahu bahwa saya sangat ketakutan mendapati dunia yang berbeda dari kehidupan indah sebelumnya di dalam rahim Bunda. Saya menangis sekuat-kuatnya untuk menunjukkan bahwa saya benar-benar takut dan takkan mampu hidup sendiri dalam kondisi yang sangat lemah. Tapi ketika itu pula, Bunda tahu ketakutan yang saya rasakan. Ia merapatkan tubuh ini ke tubuhnya, menyodorkan air murni kehidupan dan mengusapkan jari lembutnya di punggung kecil ini. Hangat kecupnya terasa di kening seraya berucap, “Jangan takut nak, Bunda kan selalu menemanimu sampai kapan pun”
Tangisan pertama saya, mungkin agak asing untuk telinga Bunda. Tapi Bunda cerdas luar biasa, hanya perlu waktu beberapa saat saja untuk bisa memahami seribu bahasa yang keluar dari mulut mungil saya. Ketika tiba-tiba Bunda mampu membaca bibir saya dan berkata, “Oooh, haus ya sayang… ” dan di tangisan lain Bunda menerjemahkan lain pula, “sakit ya nak, mana yang sakit? tangannya? Sini Bunda usap-usap ya…”
Setiap tengah malam, saya menangis, kadang karena haus, lapar atau karena tidak betah usai buang air kecil. Tak pernah Bunda mengeluh, apalagi melanjutkan tidurnya tak peduli. Secepat kilat ia bangun, mengganti popok, membersihkan kotoran saya, atau menyusui saya yang kehausan. Baru setengah jam Bunda terpejam, saya menangis lagi, kali ini karena nyamuk yang mengganggu. Bunda tahu itu, sesungguhnya ia tak pernah benar-benar terlelap. Antara sadar dan tidak, Bunda pasti terbangun setiap kali lenguhan si kecil ini terdengar seraya sigap memberi apapun yang diinginkan.
Tak hanya ketika bayi, Bunda menemani saya tidur hingga waktu-waktu saya menjelang remaja. Bunda tahu betul, saya selalu rindu tidur di sisi bunda karena ingin mendengarkan dongeng seperti dulu, atau sekadar merasakan hangatnya usapan lembut jari Bunda di punggung. Kemudian nyanyian merdu Bunda mengiringi jiwa yang terbang ke alam mimpi. Tak semerdu biduanita terkenal memang, tapi kasih yang menyertainya membuat suara Bunda jauh lebih indah di hati.
Lagu favorit saya adalah “Bintang Kecil”, karena Bunda menyanyikannya sambil memproklamirkan bahwa sayalah bintang kecil itu, yang tak hanya bercahaya di malam hari, namun selalu menjadi cahaya di dalam hati Bunda. Saya juga suka lagu “Pelangi” sebab kata Bunda, memiliki saya sebagai anaknya jauh lebih indah dari pelangi manapun yang pernah dilihatnya. Satu lagi lagu kesukaan saya, terutama pada kalimat pinta, “ambilkan bulan bu…”, kata Bunda, tak hanya bulan, apapun yang saya minta akan diambilkan.
Saat saya masih suka pipis di celana, Bunda tak pernah marah. Ia tahu saya sudah cukup merasa malu, dan tak ingin menambah penderitaan dengan omelannya. Ia hanya menuntun tangan kecil ini sambil menunjukkan tempat pipis yang sebenarnya. Saat harus membersihkan bekas buang air kecil atau kotoran yang bau nan menjijikkan, kadang ia tengah asik menikmati santapan pagi, siang maupun malam. Dengan senyum terindah, ia tinggalkan makannya untuk sesaat membersihkan saya.
Kalau Bunda senyum saat saya mendapat nilai sempurna di sekolah, itu biasa. Namun senyum yang sama terukir di bibirnya ketika nilai saya jeblok,benar-benar membuat saya merasa berjalan di atas awan. Bunda tahu, marah karena nilai jelek yang saya dapatkan tidak akan membenahi keadaan. Senyumnya justru memberi saya arti bahwa ia tetap bangga terhadap anaknya dalam kondisi apapun. Dan karena itulah, saya berjanji untuk senantiasa memberi nilai setimpal untuk senyum indahnya itu.
Saya pernah sakit, berhari-hari sampai tidak mau makan dan minum. Bunda sedih, meski yang sakit anaknya, tapi ia lebih menderita dari siapapun di dunia ketika itu. Bunda tahu, saat anaknya sakit maka ia akan merasa dirinya lah yang sakit. Karena anak adalah buah hatinya, mutiara jiwanya. Maka jika sakit buah hatinya, sakit pula dirinya secara menyeluruh. Jika sakit mutiara jiwanya, sakit pula tubuh keseluruhannya.
Pada akhirnya, ketika saya memutuskan untuk menikah. Bunda menangis, akan ada orang lain yang mengisi hati ini untuk dicinta selain dirinya. Meski demikian, Bunda tahu bahwa saya tetap selalu mencintainya lebih dari apapun. Bunda tahu ia takkan kehilangan diri ini meski harus berjauhan dan tak lagi tinggal serumah. Meski pada akhirnya ia benar-benar merasa kehilangan, ia tetap pada keyakinannya,anak-anak akan kembali padanya.
Bunda benar, saya merasa takkan pernah bisa berdiri tanpa Bunda, sebab Bunda lah yang pertama kali melihat saya belajar berdiri. Sejauh saya melangkah, kemana pun saya pergi, Bunda lah yang memulainya dengan mengajari saya cara berjalan. Sehebat-hebatnya saya menjadi pembicara dalam berbagai kesempatan, kata pertama dari mulut ini Bunda juga yang mengajarinya. bahkan, jauh sebelum saya melihat keindahan berbagai penjuru dunia, senyum Bunda pula yang pertama kali saya lihat. Seelok apapun makhluk yang saya temui di dunia, saya lebih dulu melihat wajah mulia Bunda.
Kini, walau anak-anak jarang berkunjung, kerap lupa menelepon sekadar untuk menanyakan kabar, Bunda tahu bukan karena anak-anak tak lagi mencintai. Bahkan tanpa memberi tahu, Bunda selalu yakin anak-anaknya dalam keadaan baik-baik saja, karena itulah yang tak pernah lupa ia panjatkan dalam doa di sujud malamnya.
Maaf Bunda, karena sekarang justru saya yang sering lupa mencari tahu, apa Bunda baik-baik saja? Siapa yang memberi obat ketika Bunda sakit? Siapa yang menemani Bunda jalan-jalan sore, apa Bunda sudah makan malam …
Happy mothers day, mom

Friday, November 25, 2011

Hari Guru: Guru dan Semangatnya

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.
Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
(sindroma gangguan otak belakang).
Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.
Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
anak yang beradu dengan lantai.
Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
kepandaiannya menyusun huruf.
Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
damai dan hangat.
Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.
Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.
Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
Ddduh, ada apa ini?
Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
sekedar mencium tangan saya.
Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.
***
Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.
Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.
Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?
Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
berbeda disana. Cobalah. Rasakan.

Thursday, November 10, 2011

Hari Pahlawan: Kebesaran Jendral Sudirman

Cerita ini saya dapatkan dari rekaman ceramah ramadhan Bung Tomo di Masjid Salman ITB (1977). Bung Tomo adalah tokoh utama pada perang dahsyat Arek-arek Suroboyo melawan tentara Inggris (menurut wikipedia kekuatan Inggris sekitar 30 000 serdadu) pada tanggal 10 Nopember di Surabaya -- yang kini diperingati sebagai hari pahlawan. Bung Tomo pernah menjadi tangan kanan Bapak ABRI (kini TNI), Jendral Sudirman. Kisah ini tentang Panglima Besar yang namanya masih dikenang dengan bangga oleh kalangan TNI hingga saat ini.

Dikisahkan pada masa perang gerilya clash kedua (1948-1949) mulai berjalan di Klaten, tatkala Jendral Sudirman dan pasukannya baru keluar dari kota dan tiba di Klaten yang terletak di sebelah timur Jogja. Daerah itu terkenal oleh penduduknya yang berkecukupan, dan banyak industri. Seorang staff Jendral Sudirman mengusulkan pada Si Panglima untuk meminta pada penduduk yang kaya agar memberikan harta bendanya demi membiayai perang gerilya.

Apa jawaban Jendral Sudirman?

Jendral Sudirman diam dan memanggil ajudannya. Beliau menyuruh ajudannya kembali ke Jogja untuk menemui istrinya. Dimintanya si ajudan meminta istrinya untuk menyerahkan semua perhiasan yang dibelinya sejak jaman Belanda -- untuk membiayai perang gerilya. Sang Jendral memilih menyuruh istrinya untuk menyerahkan harta benda demi perjuangan. Ternyata Istri Jendral Sudirman-pun rela menyerahkan semua perhiasannya untuk membiayai perjuangan kemerdekaan.

Seandainya Indonesia memiliki pemimpin-pemimpin dengan kemampuan memimpin dan kebesaran hati seperti Jendral Sudirman, dapat dibayangkan bagaimana majunya Indonesia dan betapa sulitnya pungli hidup subur di negeri kita (UNDIL)

 
Powered by Blogger